• OPINI : EFEKTIFITAS LOCKDOWN DI MASA PANDEMI (75%)

    OPINI : EFEKTIFITAS LOCKDOWN DI MASA PANDEMI

OPINI : EFEKTIFITAS LOCKDOWN DI MASA PANDEMI

0

Jum'at,03 Septermber 2021 15:02 Wib


Oleh: SAKTI YUHARBI .SH. mahasiswa Program Doktoral Ilmu hukum universitas jambi

OPINI- hari ini emosi kita semua kembali diombang-ambingkan dengan gambaran nyata lonjakan kasus pasien infeksi virus Covid-19 di berbagai daerah atau corona di Indonesia. 

Fenomena instalasi gawat darurat rumah sakit yang penuh dan tak mampu menampung pasien, hingga antrean panjang untuk menjalani isolasi mandiri jamak terjadi di semua wilayah menghadapi corona di Indonesia. 


Daerah-daerah yang sebelumnya tak terdengar terjadi lonjakan kasus corona di Indonesia, bahkan mungkin tidak menyangka virus korona sudah sampai di wilayahnya, kini harus sibuk berjibaku menangani lonjakan pasien. 


Kepanikan tak terhindarkan, karena kesiapan di daerah ternyata tetap tidak tercipta meskipun pandemi corona di Indonesia sudah berlangsung setahun lebih. 

Kepanikan menghadapi corona di Indonesia mulai menggema makin nyaring. Usulan untuk mengunci wilayah atau lockdown di sejumlah daerah yang banyak terdapat lonjakan kasus positif corona di Indonesia juga riuh terdengar demi mencegah penyebaran penyakit ini. 


Seolah kembali pada masa setahun lalu di awal pandemi corona di Indonesia, perdebatan apa yang harus dilakukan apakah fokus menangani kesehatan Covid-19 atau menjaga pertumbuhan ekonomi? 


Sebuah debat kusir yang tidak perlu lagi digaduhkan. Karena toh lockdown belum tentu efektif mencegah penyebaran corona di Indonesia. 

Pertama, kebijakan ini bikin orang menjerit karena orang yang teriak lockdown rerata orang yang sudah disiplin menerapkan protokol kesehatan dan tidak ada masalah dengan perut mereka meskipun tidak bekerja bertahun tahun, tabungan tetap mencukupi. 


Kedua kebijakan lockdown menghadapi corona di Indonesia tidak akan efektif selama mayoritas masyarakat bandel terus mengabaikan protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19, gemar keluyuran, kumpul-kumpul, tanpa masker seolah pendemi telah berakhir. 


Ketiga, apakah aparatur negara sudah siap membelanjakan anggaran untuk mengantisipasi kebutuhan pokok masyarakat menghadapi corona di Indonesia? 


Faktanya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut pemerintah daerah masih sangat lamban menggunakan anggaran untuk penanganan corona di Indonesia. 


Dari total alokasi anggaran Rp 33,8 triliun baru terpakai 8,2% padahal sudah setengah tahun berjalan. 


Bahkan kabupaten dengan zona merah corona di Indonesia pun masih santai saja tak menggenjot pencairan anggaran untuk penanganan masalah kesehatan ini. 

Dengan situasi sekarang ini ada baiknya kita renungkan pesan Buya Haedar Nashir, bahwa bisa jadi lonjakan corona di Indonesia seperti ini terjadi karena kita semua terlalu sombong untuk tidak mematuhi protokol kesehatan, abai dengan berbagai peringatan pemerintah, merasa tidak takut sehingga enggan mengikuti vaksinasi. 


Jadi lockdown serapat apapun untuk menghadapi corona di Indonesia, tak akan efektif di negeri ini.